Tak perlulah dulu kupamerkan kamu pada dunia.
Karena kadang sesuatu yang paling kita banggakan suatu saat akan menjadi sesuatu yang paling kita relakan.
Iya, kamu yang kubanggakan dan harus kurelakan.
Nyatanya, melepaskanmu bukanlah sebuah akhir, rinduku masih berkelanjutan.
Sampai detik ini, sosokmu tetap menjadi sebuah permohonan, entah sebagai pasangan atau seseorang yang harus kurelakan (atau lupakan>).
Kita harusnya mengerti bahwa sejauh-jauhnya perjalanan adalah perjalanan untuk saling melupakan.
Dan saat hati ini menangis keras, engkau makin menambah bising dengan suara langkah yang menjauh.
Aku....
Mungkin ditakdirkan hanya untuk menjadi penikmat senyummu, bukan pemilik, apalagi untuk jadi penyebabnya.
dan Aku....
Tak cukup pandai untuk tahu bahwa untukku kau tak pernah punya cinta.
Karena saat kusadar kau telah benar-benar menyuruhku untuk berhenti berharap, pada saat hati ini merasa sakit, bodohnya otak ini tetap meyakinkan diri untuk bangkit.
Karena Engkau....
Adalah orang yang Tuhan ciptakan untuk ada di hatiku, tapi bukan untuk menemani hidupku.
Dan Engkau....
Adalah hal terindah bagiku yang Tuhan ciptakan untuk orang lain.
Terimakasih telah mengisi lembaran-lembaran hari ku dengan warna indahmu.
Kira-kira singkatnya begini, kau harus bahagia meski bukan denganku, meski aku benci kalimat itu.
Dan jika dirimu tak bisa menjadi pelabuhan hatiku, setidaknya jadilah rumah bagi puisi-puisiku.
Dan aku akan tetap menjadi aku, aku dengan ketidakmampuanku menahan rindu.
Karena kadang sesuatu yang paling kita banggakan suatu saat akan menjadi sesuatu yang paling kita relakan.
Iya, kamu yang kubanggakan dan harus kurelakan.
Nyatanya, melepaskanmu bukanlah sebuah akhir, rinduku masih berkelanjutan.
Sampai detik ini, sosokmu tetap menjadi sebuah permohonan, entah sebagai pasangan atau seseorang yang harus kurelakan (atau lupakan>).
Kita harusnya mengerti bahwa sejauh-jauhnya perjalanan adalah perjalanan untuk saling melupakan.
Dan saat hati ini menangis keras, engkau makin menambah bising dengan suara langkah yang menjauh.
Aku....
Mungkin ditakdirkan hanya untuk menjadi penikmat senyummu, bukan pemilik, apalagi untuk jadi penyebabnya.
dan Aku....
Tak cukup pandai untuk tahu bahwa untukku kau tak pernah punya cinta.
Karena saat kusadar kau telah benar-benar menyuruhku untuk berhenti berharap, pada saat hati ini merasa sakit, bodohnya otak ini tetap meyakinkan diri untuk bangkit.
Karena Engkau....
Adalah orang yang Tuhan ciptakan untuk ada di hatiku, tapi bukan untuk menemani hidupku.
Dan Engkau....
Adalah hal terindah bagiku yang Tuhan ciptakan untuk orang lain.
Terimakasih telah mengisi lembaran-lembaran hari ku dengan warna indahmu.
Kira-kira singkatnya begini, kau harus bahagia meski bukan denganku, meski aku benci kalimat itu.
Dan jika dirimu tak bisa menjadi pelabuhan hatiku, setidaknya jadilah rumah bagi puisi-puisiku.
Dan aku akan tetap menjadi aku, aku dengan ketidakmampuanku menahan rindu.

Comments