Mencintai Gak Harus Memiliki, Kalau . . . .



Halo, ini cerita tentang pertemuan gua dengan seseorang yang bikin gua percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu nyata. Dan padanya, gua merasa harus melabuhkan hati gua, yang sampai akhirnya perasaan gua harus berubah untuk mempercayai ungkapan bahwa “mencintai itu tidak harus memiliki”.

Gua memulai usaha pendekatan seperti biasa, memulai dengan chat ringan yang kemudian berakhir dengan ajakan keluar dan makan bareng. Beberapa minggu gua jalanin dan gua merasa bahagia karena bisa sedeket ini sama orang yang gua suka, gua seneng karena ada yg memperhatikan dan gua perhatikan. Chatting dari pagi sampai mau tidur, stalking akun instagram, dan jemput dia pulang kampus untuk sekedar ngajak makan malem bareng udah jadi kegiatan rutin buat gua.

TAPI…… Gua adalah orang yang susah kapok. Gua pernah ngelakuin kesalahan sebelumnya yang kemudian kembali gua ulangi sekali lagi. Buat sebagian orang, gua bisa asik bercanda, gua bisa bikin topik-topik seru buat jadi bahan obrolan, dan bisa kreatif mencairkan suasana. Tapi semua itu ga pernah bisa gua lakukan di depan orang yang gua suka. Gua ngerasa kayak Superman yang lemah di hadapan batu krypton. Gua kaku, freeze, dan gua gabisa bikin suasana cair layaknya gua seru-seruan sama temen-temen. Mungkin kalo dia bilang gua kaku terkesan sombong dan ga nyambung di ajak ngobrol, sekali kali gua pingin banget kita bisa tuker posisi supaya dia tau rasanya deg-degan sampe ga ngerti harus berbuat apa. Ketika gua ngerasa stuck, kesalahan selanjutnya adalah gua memilih untuk mundur. 
Sampai beberapa bulan gua memutus komunikasi, gua kembali berniat untuk kembali maju dan hasilnya gua bingung harus memulai darimana, karena setiap chat yang gua kirim, setiap telpon yang selalu gua cancel sendiri, dan setiap gua harus bertatap langsung, selalu membuat gua ga bisa berkutik, gatau mau ngelakuin apa lutut gua serasa keriting gemeteran. Seketika itu pula buyar sudah semua harapan gua.
Mulai saat itu, gua lebih memilih jadi seorang pemuja rahasia, seperti yang dideskripsikan dalam lagu yang dilantunkan band favorit gua Sheila On 7, bedanya, gua bukan Adul, gua juga ga berteman sama para rapper, tapi intinya gua selalu mengawali hari dengan mendoakannya agar dia selalu sehat dan bahagia di sana dan gua ga pernah berharap dia akan merindukan keberadaan gua yang menyedihkan ini. 

Seandainya waktu itu gua bisa ngobrol lancar selancar gua ngelatih futsal. Seandainya waktu itu gua bisa bercanda seasik gua bercanda sama temen-temen yang lain. Seandainya gua bisa ngelawan kencangnya dada gua yang gemeteran setiap ketemu dia. Seandainya gua ga salah tingkah setiap ketemu dia. Seandainya gua ga plin-plan buat sekedar nentuin tempat makan karena gua takut salah. Seandainya gua ga memilih untuk mundur melainkan melawan semua kelemahan gua.
Seandainya, seandainya, seandainya………..

Gua belajar dari kasus gua ini, siapapun orang yang menciptakan ungkapan “Mencintai tak harus memiliki”, pasti orang yang cintanya gak berbalas. Karena ga ada orang yang cintanya berbalas kemudian bisa menciptakan ungkapan sejenis itu. Dan akhirnya, gua bisa menemukan lanjutan ungkapan itu, yaitu “mencintai tidak harus memiliki jika kita ga punya daya untuk memilikinya.”


Dan aku, mungkin hanya ditakdirkan untuk menjadi penikmat senyumnya, bukan pemilik, alih-alih penyebab. 
Dan Dia, tetaplah menjadi sebuah permohonan, entah sebagai pasangan, atau seseorang yang harus direlakan.

Comments