Sesuai judulnya curhat, kali ini gua bukannya mau curhat tentang apapun, tapi kali ini gua bener-bener akan mendeskripsikan tentang curhat dari perspektif gua, alasan-alasan dibalik susahnya gua kalo disuruh curhat sama temen-temen gua. Yang bikin gua sadar kalo pemikiran gua selama ini tentang “curhat” itu salah.
Ok, let's begin :)
Curhat, akronim dari Curahan Hati. Hal yang paling sering orang lakukan waktu punya masalah yang ingin diceritakan pada orang-orang di sekitarnya.Seringkali orang bercurhat ria dengan teman, sahabat, atau kerabat dekatnya. Sebenarnya ngga ada yang salah sih sama yang namanya curhat.
Tapi gua adalah tipe orang yang ga akan bener-bener curhat kalo cuma buat sekedar cerita, gua akan mengeluarkan semua curhatan gua kalo memang gua udah stuck butuh solusi. Gua sempet berpikir (yang kalo gua pikir-pikir lagi ternyata selama ini pemikiran gua salah) kalo curhat tentang masalah-masalah kita kepada orang lain sama saja dengan memproklamirkan diri bahwa kita adalah orang yang bermasalah yang secara ngga langsung kita malah lari dari masalah, bukan menyelesaikan masalah tersebut. Karena menurut pandangan gue curhat itukan sebenarnya secara ngga langsung kita lari dari masalah. Karena gua pernah ketemu beberapa orang yang “menggunakan curhat” sebagai cara mencari dukungan, pembenaran, simpati, dan sebagainya. Yang memperkuat argument gua (yang ga gitu juga harusnya) di atas. Pokoknya dia mau orang-orang dukung dia dengan masalahnya. Setiap ada masalah dan berbuat salah malah cari dukungan ke teman curhat kalau dia sebenarnya ngga salah. Kalau teman curhatnya ngga komentar atau ga ngasih jawaban yang dia mau atau bahkan ga ngedukung, otomatis si pelaku curhat akan terus mencari dukungan dan mencari teman curhat lain. Yang ujung-ujungnya, udah jadi rahasia umum kalo dia orang yg “bermasalah”.
Karena gua pikir yang punya solusi dari masalah-masalah itu ya kita sendiri bukan teman yang diajak curhat, mereka cuma orang ketiga yang bisa jadi tempat untuk memberikan opsi lain sebagai jalan keluar masalah, yang paling parahnya malah bisa mengaburkan solusi. Karena kadang teman yang diajak curhat itu belum tentu bisa memberi pandangan objektif karena mereka ngga tahu detail tentang masalahnya.
Orang bilang, seorang sahabat rela dijadikan tempat untuk kita menumpahkan kesedihan. Tapi inget, jangan keseringan juga kasian sahabatnya, hehe. Sahabat itu idealnya adalah tempat kita untuk berbagi impian, saling support satu sama lain, dan saling berbagi kebahagiaan, jadi bukan cuma jadi tempat sampah saat kita ada masalah, karena hidup itu harus seimbang. Karena banyaknya orang-orang itu kalo lagi seneng lupa sama sahabatnya, giliran ada masalah malah datang buat curhat ( yang kzl kalo soal duit pula), hahaha.
Curhat yang paling baik adalah curhat sama Allah. Rasanya itu puas banget. Cobain! Lega banget pasti, bisa minta sepuas-puasnya. Dan Dia pasti akan menjawab permintaan kita dengan cara-Nya sendiri yang merupakan solusi terbaik bagi kita, dan cari temen curhat yang bener-bener bisa objektif untuk memberikan kita opsi baru sebagai solusi menyeselesaikan masalah .
Setiap masalah di dunia ini akan selesai saat orang-orang berbicara "ke" satu sama lain, bukan berbicara "tentang" satu sama lain :)
Ok, let's begin :)
Curhat, akronim dari Curahan Hati. Hal yang paling sering orang lakukan waktu punya masalah yang ingin diceritakan pada orang-orang di sekitarnya.Seringkali orang bercurhat ria dengan teman, sahabat, atau kerabat dekatnya. Sebenarnya ngga ada yang salah sih sama yang namanya curhat.
Tapi gua adalah tipe orang yang ga akan bener-bener curhat kalo cuma buat sekedar cerita, gua akan mengeluarkan semua curhatan gua kalo memang gua udah stuck butuh solusi. Gua sempet berpikir (yang kalo gua pikir-pikir lagi ternyata selama ini pemikiran gua salah) kalo curhat tentang masalah-masalah kita kepada orang lain sama saja dengan memproklamirkan diri bahwa kita adalah orang yang bermasalah yang secara ngga langsung kita malah lari dari masalah, bukan menyelesaikan masalah tersebut. Karena menurut pandangan gue curhat itukan sebenarnya secara ngga langsung kita lari dari masalah. Karena gua pernah ketemu beberapa orang yang “menggunakan curhat” sebagai cara mencari dukungan, pembenaran, simpati, dan sebagainya. Yang memperkuat argument gua (yang ga gitu juga harusnya) di atas. Pokoknya dia mau orang-orang dukung dia dengan masalahnya. Setiap ada masalah dan berbuat salah malah cari dukungan ke teman curhat kalau dia sebenarnya ngga salah. Kalau teman curhatnya ngga komentar atau ga ngasih jawaban yang dia mau atau bahkan ga ngedukung, otomatis si pelaku curhat akan terus mencari dukungan dan mencari teman curhat lain. Yang ujung-ujungnya, udah jadi rahasia umum kalo dia orang yg “bermasalah”.
Karena gua pikir yang punya solusi dari masalah-masalah itu ya kita sendiri bukan teman yang diajak curhat, mereka cuma orang ketiga yang bisa jadi tempat untuk memberikan opsi lain sebagai jalan keluar masalah, yang paling parahnya malah bisa mengaburkan solusi. Karena kadang teman yang diajak curhat itu belum tentu bisa memberi pandangan objektif karena mereka ngga tahu detail tentang masalahnya.
Orang bilang, seorang sahabat rela dijadikan tempat untuk kita menumpahkan kesedihan. Tapi inget, jangan keseringan juga kasian sahabatnya, hehe. Sahabat itu idealnya adalah tempat kita untuk berbagi impian, saling support satu sama lain, dan saling berbagi kebahagiaan, jadi bukan cuma jadi tempat sampah saat kita ada masalah, karena hidup itu harus seimbang. Karena banyaknya orang-orang itu kalo lagi seneng lupa sama sahabatnya, giliran ada masalah malah datang buat curhat ( yang kzl kalo soal duit pula), hahaha.
Curhat yang paling baik adalah curhat sama Allah. Rasanya itu puas banget. Cobain! Lega banget pasti, bisa minta sepuas-puasnya. Dan Dia pasti akan menjawab permintaan kita dengan cara-Nya sendiri yang merupakan solusi terbaik bagi kita, dan cari temen curhat yang bener-bener bisa objektif untuk memberikan kita opsi baru sebagai solusi menyeselesaikan masalah .
Setiap masalah di dunia ini akan selesai saat orang-orang berbicara "ke" satu sama lain, bukan berbicara "tentang" satu sama lain :)

Comments