Isi Kepala "Manusia Kepala Tiga"




Tepat pukul 1 pagi, gue sama sekali gabisa tidur, walaupun gue udah ngerasa capek banget.
Kepikiran, umur gue ternyata masuk di awal 30an.

Gatau angin apa yang bikin gue kepikiran soal apa yang saat ini gue jalanin dan apa aja yang udah gue punya.
Setelah gue pikir-pikir, mungkin gue kebanyakan main instagram, yaap kebanyakan liat postingan-postingan orang berseliweran di feed maupun di story tentang kehidupan mereka masing-masing.

Ada yang udah lamaran, ada yang baru nikah, ada yang upload kegemasan buah hatinya, ada yang jalan-jalan ke luar negeri, ada yang update progress rumah barunya, ada yang abis makan enak, yang jalan naik kendaraan baru, ada yang abis beramal di panti asuhan, ada yang posting hasil usahanya, ada juga yang update keseruan pekerjaannya, dan postingan-postingan lainnya yang diposting sama mereka.
Rasa-rasanya, semua itu toxic buat gue, karena selalu gue banding-bandingin sama apa yang gue punya.

Gue ga bisa nyalahin temen kita mau update apa, secara fungsi dasarnya, Instagram emang disediain buat pamer, titik. Kita bebas nentuin postingan mana yang mau diliat apa ngga, toh instagram juga udah nyediain tombol "follow-unfollow", filternya kita sendiri yang nentuin. Satu-satunya yang bisa gue salahin itu, sikap gue yang malah jadi banding-bandingin hidup gue sama temen-temen gue. Jelas itu salah. 

Tapi, Iri sama hal yang baik itu boleh kan? 
Gue ngerti, ngebandingin pencapaian itu bukan hal yang gak baik. Pointnya, gue bukan kecewa karena gue tertinggal jauh soal pencapaian. 
Gue paham betul konsep Hukum Kekekalan Energi tentang "Jumlah energi dari sebuah sistem tertutup itu tidak berubah, ia akan tetap sama. Energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan, namun energi berpindah dari satu bentuk ke bentuk energi lainnya (konversi energi)"
Kalau kita analogikan, jika sistem tertutup yang di maksud adalah kehidupan pekerjaan, dan energi yang berkerja dalam sebuah sistem adalah pendapatan, jarak tempuh tempat kerja, siapa teman dalam pekerjaan, karakter atasan, resiko pekerjaan, fleksibilitas waktu kerja, dsb, maka pencapaian kita dibandingkan dengan orang lain nilainya akan sama, hanya proporsi energinya yang beda.
Ada yang penghasilannya besar tapi resiko dan tanggung jawab pekerjaannya tinggi, ada yang gajinya pas-pasan tapi kerjaannya dia suka banget, ada yang gajinya kecil tapi deket dari rumah dan bisa ketemu keluarga setiap hari, atau bisa jadi ada yang gajinya gede banget tapi lingkungannya saling sikut. 
Yang kesimpulannya, semua orang punya jalan terjalnya masing-masing. 
Istilahnya dalam bahasa Jawa adalah "sawang sinawang", yang diharfiahkan dalam sebuah pepatah yang berbunyi rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Semua yang kita liat enak dari orang lain, belum tentu enak kalo kita yang jalanin.

Dan sesuatu yang berkutat di pikiran gue adalah pencapaian mereka yang berhubungan dengan karir, gue iri sama mereka yang sukses berpijak dengan tegap di atas kaki sendiri karena itu bukti bahwa mereka berhasil mengekspresikan buah pikirnya ke dalam aksi nyata, dan ide-ide yang ditelurkan terus menetas, mengembangkan sayap kesuksesan mereka ke tempat yang lebih tinggi. Kegagalan demi kegagalan pun mereka hadapi dengan tegar dan dilawan dengan kreativitas dan mental yang kuat. Dan tentu semua ada perjalanan dan lika-likunya jauh sebelum mereka dapat sukses mencapai seperti yang mereka koarkan di berbagai media sosial. Proses yang telah mereka alami tentunya tak selalu manis, malah mungkin ada aroma pahit tujuh rupa yang mewarnai perjalanan mereka.


Di saat orang bisa berjalan tegap di atas kakinya sendiri, gue sampe sekarang bahkan masih meraba buat ngelangkah. Di usia hampir kepala tiga ini, gue ngerasa jadi orang yang "belum terisi apa-apa". 


Tapi, selama Tuhan masih memberikan hidup, tak boleh ada yang namanya menyerah, dan gue harus yakin akan rejeki yang udah digariskan oleh-Nya.

Sedikit mengutip Mbah Sudjiwo Tejo "Tidak perlu dengan umpatan atau membakar kitab-Nya. Khawatir besok tidak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan".

Comments