"Jaman sekarang, kita mengenal istilah bahwa kita berada di jaman pada masa orang-orang yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Itu adalah karena orang kaya selalu berinovasi, sedangkan orang miskin hanya bisa mengeluh, mindsetnya lah yang harus diubah."
Gue mendengar kata-kata di atas dari seorang motivator pada saat sesi motivasi di acara training kantor, yang berusaha membuka pandangan kalau kita bisa aja jadi "orang sukses" kalau kita selalu bekerja keras dan berinovasi, kalo nggak, maka sebaliknya.
Sejujurnya, gue gak setuju sama kata-kata manis dari si motivator. Dan pikiran gue kali ini, bisa aja bertentangan sama kebanyakan orang, hehe.
Ada seorang anak punya previldge yang dari lahir udah jadi anak konglomerat. Dididik dari kecil buat punya kepribadian yang baik dan optimis. Dari kecil bisa dengan gampang mengakses pendidikan formal dan informal, buku-buku, fasilitas pelajaran, dan apapun yang menunjang pendidikannya. Nutrisi penunjang gizi diperhatiin banget sama orang tuanya, jadi si anak bisa belajar dengan leluasa tanpa mikir apa-apa lagi, fokusnya cuma buat belajar. Bersekolah di sekolah terbaik sampai bisa kuliah di luar negeri, tinggal fokus gausah pusing mikirin biaya. Kalo udah sekolah di tempat yang bagus, udah pasti bergaulnya pun sama temen-temen yang sesama anak konglomerat juga, kalopun bukan anak konglomerat, udah pasti anak yang intelegensianya luar biasa, dari tempat sekolah yang bagus dia udah punya modal koneksi dan relasi masa depannya. Setelah lulus, gampang. Mau kerja nanti orang tuanya atau koneksi orang tuanya bisa bantu, anaknya juga pinter jadi bisa masuk dan punya jabatan di perusahaan multinasional. Mau buka bisnis? Temen-temen sekolahnya bisa jadi kunci relasi bisnisnya. Modal usahanya darimana? Orang tuanya bisa sediakan atau paling tidak aset yang dia punya bisa dijaminkan buat dapat modal usaha.
Ada lagi anak miskin yang lingkungan rumahnya sering kena gusur aparat, anak yang lahir dari keluarga yang kalo makan daging ayam cuma bisa sebulan sekali, bahkan keluarga ini harus nunggu lebaran haji supaya bisa makan daging sapi. Anaknya pinter bisa masuk SMP favorit di Jakarta lewat program beasiswa prestasi, sayang ayahnya sekaligus tulang punggung keluarga meninggal dunia. Belum tamat SMP dia udah harus berhenti sekolah buat bantu ibunya kerja cari uang. Di usia SMP, dia kerja jadi kuli angkut di pasar, kemudian ganti jadi kenek metro mini, lalu naik pangkat jadi supir, sampai akhirnya menetap jadi satpam jaga malam di sebuah komplek perumahan. Ia bekerja keras dan selalu mau belajar dalam setiap pekerjaannya, sifatnya amanah dan rajin beribadah. Keinginan buat lanjut sekolah udah gak lagi jadi prioritasnya hanya demi bantu ibunya menghidupi adik-adiknya.
Ada seorang anak punya previldge yang dari lahir udah jadi anak konglomerat. Dididik dari kecil buat punya kepribadian yang baik dan optimis. Dari kecil bisa dengan gampang mengakses pendidikan formal dan informal, buku-buku, fasilitas pelajaran, dan apapun yang menunjang pendidikannya. Nutrisi penunjang gizi diperhatiin banget sama orang tuanya, jadi si anak bisa belajar dengan leluasa tanpa mikir apa-apa lagi, fokusnya cuma buat belajar. Bersekolah di sekolah terbaik sampai bisa kuliah di luar negeri, tinggal fokus gausah pusing mikirin biaya. Kalo udah sekolah di tempat yang bagus, udah pasti bergaulnya pun sama temen-temen yang sesama anak konglomerat juga, kalopun bukan anak konglomerat, udah pasti anak yang intelegensianya luar biasa, dari tempat sekolah yang bagus dia udah punya modal koneksi dan relasi masa depannya. Setelah lulus, gampang. Mau kerja nanti orang tuanya atau koneksi orang tuanya bisa bantu, anaknya juga pinter jadi bisa masuk dan punya jabatan di perusahaan multinasional. Mau buka bisnis? Temen-temen sekolahnya bisa jadi kunci relasi bisnisnya. Modal usahanya darimana? Orang tuanya bisa sediakan atau paling tidak aset yang dia punya bisa dijaminkan buat dapat modal usaha.
Ada lagi anak miskin yang lingkungan rumahnya sering kena gusur aparat, anak yang lahir dari keluarga yang kalo makan daging ayam cuma bisa sebulan sekali, bahkan keluarga ini harus nunggu lebaran haji supaya bisa makan daging sapi. Anaknya pinter bisa masuk SMP favorit di Jakarta lewat program beasiswa prestasi, sayang ayahnya sekaligus tulang punggung keluarga meninggal dunia. Belum tamat SMP dia udah harus berhenti sekolah buat bantu ibunya kerja cari uang. Di usia SMP, dia kerja jadi kuli angkut di pasar, kemudian ganti jadi kenek metro mini, lalu naik pangkat jadi supir, sampai akhirnya menetap jadi satpam jaga malam di sebuah komplek perumahan. Ia bekerja keras dan selalu mau belajar dalam setiap pekerjaannya, sifatnya amanah dan rajin beribadah. Keinginan buat lanjut sekolah udah gak lagi jadi prioritasnya hanya demi bantu ibunya menghidupi adik-adiknya.
Pertanyaannya,
Apakah anak dalam ilustrasi pertama, kaya karena rajin dan malas bekerja keras?
Intinya, jangan pernah punya pikiran atau bahkan terucap "Kamu sih bodoh, kamu sih gamau usaha, makanya miskin".
Apakah anak dalam ilustrasi kedua, miskin karena bodoh dan gak bekerja keras?
Kesimpulan dari dua orang di atas adalah, kemiskinan itu gak sesimpel akibat orang gak mau berusaha, bukan pula akibat kemalasan dan kebodohan. Jangan pernah merasa orang itu miskin karena bodoh dan gak mau bekerja keras. Tukang bangunan langganan gue, beliau jenius dalam hal pertukangan, efektif dalam pemanfaatan ruang dan biaya, beliau juga setiap hari bekerja dari pagi sampe malam, malah kalau lagi ga ada kerjaan benerin rumah orang, dia siap kerja antar jemput galon,sekali lagi apakah beliau miskin karena bodoh dan malas berusaha keras?
Dalam hal ini, jangan kita pikir mereka ga punya uang karena gaya hidup yang gak pernah hemat seperti yang diperibahasakan "hemat pangkal kaya", mereka bukan salah dalam hal mengelola uang, tapi justru mereka gak punya cukup uang buat dikelola. Jangankan buat nabung, alih-alih investasi, kebutuhan sehari-hari pun belum tentu terpenuhi.
Kesimpulan dari dua orang di atas adalah, kemiskinan itu gak sesimpel akibat orang gak mau berusaha, bukan pula akibat kemalasan dan kebodohan. Jangan pernah merasa orang itu miskin karena bodoh dan gak mau bekerja keras. Tukang bangunan langganan gue, beliau jenius dalam hal pertukangan, efektif dalam pemanfaatan ruang dan biaya, beliau juga setiap hari bekerja dari pagi sampe malam, malah kalau lagi ga ada kerjaan benerin rumah orang, dia siap kerja antar jemput galon,
Dalam hal ini, jangan kita pikir mereka ga punya uang karena gaya hidup yang gak pernah hemat seperti yang diperibahasakan "hemat pangkal kaya", mereka bukan salah dalam hal mengelola uang, tapi justru mereka gak punya cukup uang buat dikelola. Jangankan buat nabung, alih-alih investasi, kebutuhan sehari-hari pun belum tentu terpenuhi.
Mereka juga bukan yang malas berikhtiar, buktinya kuli angkut rela banting tulang dari pagi sampe malem tiap hari demi memenuhi kebutuhan hidup.
Sekali lagi, kemiskinan jelas gak sesimpel bahwa seseorang malas untuk berusaha.
Gue pernah jalan keluar kota, di sana gue disambut hangat sama seorang anak jalanan. Dia banyak cerita tentang hidupnya yang bikin gue merasa bersyukur akan hidup gue sendiri. Bayangin, dia sekecil ini, gak berani buat punya cita-cita, di saat anak-anak seusianya berlomba-lomba punya cita-cita setinggi-tingginya, dia malah menganggap cita-cita itu menakutkan karena mereka yakin gak akan bisa mereka gapai, yang kayaknya itu turun temurun diturunkan dari orang tuanya dan generasi-generasi sebelumnya di keluarga dia, bahkan bisa jadi dia bisa menurunkan lagi nanti ke keturunannya. Yang tadinya hambatan itu berupa material, hambatan itu bertransformasi menjadikan hambatan immaterial pada pada anak itu sampai-sampai bermimpipun tak berani.
Gue juga pernah ngalamin kalo previledge ini ngaruh banget. Gue memang punya penghasilan yang cukup buat menopang hidup gue sehari-hari, tapi belum bisa dibilang berlebih.
Sekali lagi, kemiskinan jelas gak sesimpel bahwa seseorang malas untuk berusaha.
Gue pernah jalan keluar kota, di sana gue disambut hangat sama seorang anak jalanan. Dia banyak cerita tentang hidupnya yang bikin gue merasa bersyukur akan hidup gue sendiri. Bayangin, dia sekecil ini, gak berani buat punya cita-cita, di saat anak-anak seusianya berlomba-lomba punya cita-cita setinggi-tingginya, dia malah menganggap cita-cita itu menakutkan karena mereka yakin gak akan bisa mereka gapai, yang kayaknya itu turun temurun diturunkan dari orang tuanya dan generasi-generasi sebelumnya di keluarga dia, bahkan bisa jadi dia bisa menurunkan lagi nanti ke keturunannya. Yang tadinya hambatan itu berupa material, hambatan itu bertransformasi menjadikan hambatan immaterial pada pada anak itu sampai-sampai bermimpipun tak berani.
Gue juga pernah ngalamin kalo previledge ini ngaruh banget. Gue memang punya penghasilan yang cukup buat menopang hidup gue sehari-hari, tapi belum bisa dibilang berlebih.
Di luar sana, ada banyak banget artis yang punya penghasilan luar biasa banyak setiap kali mereka on air.
Apa bedanya gue sama dia? Jadi dengan penghasilan gue ini, gue pengen punya usaha sampingan buat nambah-nambah pendapatan, tapi kali ini gue terhambat karena gue ga punya cukup modal buat buka usaha, singkatnya, gue gabisa bertaruh menggunakan pos pengeluaran rutin bulanan untuk berspekulasi membuat usaha, bisa-bisa cicilan dan uang makan malah ga ketutup.
Lain dengan artis-artis yang dengan gampang banget muter uang dengan buka usaha kue artis, restoran, sanggar, butik, dan lainnya, duitnya udah banyak, dan investasi mereka ga mengganggu pengeluaran rutin buat kebutuhan pokok.
Jadi perbedaan gue dan mereka ini bisa mewakili kalimat si motivator tadi yang bilang si kaya makin kaya, dan si miskin tetap miskin. TAPI, kesimpulannya si miskin bukan ga mau berinovasi, hanya saja si miskin udah pusing mikirin perut dibanding mikirin inovasi.
Jadi, kalo kita punya previledge, jangan memandang rendah sama mereka yang ga beruntung. Kalo kita bisa beruntung karena usaha kita mulai dari minusudah bukan dari nol lagi, ga ada salahnya kita bantu dan berbagi buat mereka supaya bisa meningkatkan taraf hidup mereka.
Yang berubah hidupnya? ADA, tp ga banyak. Maka dari itulah tugas kita untuk terus berusaha untuk memperbaiki nasib.
Jadi, kalo kita punya previledge, jangan memandang rendah sama mereka yang ga beruntung. Kalo kita bisa beruntung karena usaha kita mulai dari minus
Yang berubah hidupnya? ADA, tp ga banyak. Maka dari itulah tugas kita untuk terus berusaha untuk memperbaiki nasib.
Intinya, jangan pernah punya pikiran atau bahkan terucap "Kamu sih bodoh, kamu sih gamau usaha, makanya miskin".

Comments