Sebuah Petuah di "usia siap menikah"



Buat temen-temen yang galau dalam hal ditanya-tanya kapan nikah, gue punya sudut pandang yang mungkin bisa jadi perspektif baru temen-temen buat gak terlalu memikirkan apa yang diomongin sama orang-orang.

        SATU

Cari Pasangan itu Ibarat Makan
Kalau kita makan waktu kita sedang lapar-laparnya, kadang kita pasti gabisa bedain mana makanan yang bergizi, mana makanan yang ga bergizi, atau bahkan mana makanan yang udah gak layak buat dikonsumsi.
Istilahnya, semua makanan pasti disikat karena perut kita udah maksa buat diisi


Begitu juga dengan mencari pasangan. Jangan cari pasangan dalam keadaan tertekan apalagi putus asa. Karena kita bisa aja ngelupain pertimbangan-pertimbangan penting dalam proses pencarian pasangan, dalam prosesnya semua orang pasti disikat karena hati ini sudah tertekan terlalu haus untuk cepet-cepet diisi sosok seorang pasangan.

Jangan berharap menikah buat dapetin kebahagiaan. Jangan pernah sekalipun menggantungkan kebahagiaan kita sama orang lain, sekalipun itu pasangan hidup. Bahagia harus kita sendiri yang tentukan, pasangan hidup dan pernikahan itu yang akan melengkapi kebahagiaan kita.
 Logikanya jangan dibalik.

Bahagia dulu, baru berbagi kebahagiaan


      DUA

Nobody's Perfect, carilah pasangan seideal mungkin menurut kalian, mau ganteng, rajin, pinter, buncit, atau apapun, kecuali dua hal:
1. Tukang Selingkuh
2. Kasar (Verbal ataupun Non Verbal)

Karena dua hal itu ga akan bisa berubah seiring berjalannya waktu, kalau dia kasar sebelum nikah, udah pasti setelah nikah makin kasar. Gue udah punya banyak temen dalam perkara ini. Nah, pilihannya, lebih capek mana, ngerapihin barang-barang pasangan yang orangnya berantakan atau ngerapihin hati kita yang berantakan karena ucapan kasar si pasangan? You choose.
Pun begitu juga buat tukang selingkuh, kalau emang aslinya udah tukang selingkuh, pernikahan gak akan menjamin kalau dia akan berhenti berselingkuh. Lebih parah, mungkin. Itu juga banyak terjadi ke temen-temen gue.
Jadi kalau masih pacaran udah ketauan punya dua hal itu, pikir-pikir lagi untuk lanjut ke jenjang pernikahan, because you deserve a better person.
Analogi yang sama kayak orang yang kalau ga punya uang udah dermawan, waktu punya uang pasti nantinya lebih dermawan, sebaliknya orang kalau ga punya uang udah pelit, waktu punya uang pun belum tentu ia nantinya berubah jadi dermawan.
Karena sifat dasar akan sangat susah diubah, kecuali dapet hidayah dan/atau dia punya effort yang super kuat untuk mau berubah memperbaiki diri.

Jadi kesimpulannya, menikahlah dengan orang yang tepat, orang yang mau kita jadikan teman dalam menghabiskan sisa hidup bersama.
Gak usah buru-buru, semua orang sudah punya timelinenya masing-masing, santai, hidup bukan perlombaan. Tapi kalo udah nemu orang yang tepat, segeralah kawan.


Karena seumur hidup terlalu panjang untuk dihabiskan bersama orang yang tidak tepat. :)

Comments